Sabtu, 05 November 2016

Cinta Sejati itu Cuma 4 Tahun Selebihnya Komitmen dan Dorongan Seks

Bernarkah cinta itu abadi?

Adakah cinta sejati?

Dan kenapa tidak bisa dilupakan?



Hampir setiap orang pernah mengalami jatuh cinta. Falling in love. Ada juga yang menyebut kasmaran.

Peristiwa ini bukan sekedar ketertarikan secara seksual antara lawan jenis. Atau ketertarikan dengan alasan fisikis, tampangnya yang cakep, harta yang berlimpah, pintar atau alasan masuk akal yang lain. Tapi ini adalah jatuh cinta yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Pokoknya jika ketemu dengan si dia senangnya minta ampun. Apapun yang berkaitan dengan doi selalu bikin bahagia. Indah sekali. Serasa dunia hanya milik berdua. Yang lain ngontrak. Hehe..

Namun jika jatuh cinta yang bertepuk sebelah tangan, tidak diterima atau dikhianati, sakitnya tiada terkira. Kata Pat Kay, derita karena cinta sakitnya tiada tara.

Biasanya dialami saat pertama kali atau cinta pertama. Karena itu ada pepatah, cinta pertama adalah cinta yang tak terlupakan. Cie..cie..

Masa ini sering dialami saat masa pubertas. Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun.

Namun terkadang cinta semacam ini hadir lagi saat beranjak dewasa. Tiba-tiba ada ketertarikan dengan lawan jenis saat pandangan pertama. Atau setelah ada momen yang mempertautkan perasaan mereka. Ada perasaan yang beda. Sepertinya sudah kehilangan akal sehat. Mungkin ini yang disebut cinta sejati. Cinta yang tidak butuh logika. Meski cinta sejati itu sebenarnya tidak ada (mengutip lirik lagunya Dewa 19 “Ahmad Dhani” yang berjudul Arjuna Mencari Cinta).

Perasaan semacam ini tidak sering. Biasanya dialami cuma 1-2 kali seumur hidup. Dan sampai mati tidak pernah bisa melupakannya. Dan kebanyakan cinta semacam ini tidak berlanjut sampai ke pelaminan. Entahlah apa penyebabnya. Rahasia Allah.

Kenapa tidak bisa dilupakan. Memori kita tersimpan di otak dalam “kotak” memori tanpa sekat-sekat. Maka tak salah jika kita terkadang masih mengingat peristiwa saat masih kecil yang sangat mengesankan atau mengerikan tapi kita sudah lupa peristiwa beberapa minggu yang lalu.

Trauma begitu diingatnya karena peristiwa itu menguras energi, emosi dan perasaan. Maka hal itu akan melekat dalam ingatan kita seperti dilem yang sangat kuat sehingga tidak mudah melepaskan dalam memori.

Begitu juga peristiwa jatuh cinta. Anda pernah jatuh cinta kan? Menguras energy dan emosi. Baik saking bahagianya maupun saking menyakitkannya. Kuat “lem” memorinya. Itu tidak dialami jika anda berpacaran karena kebutuhan saja.

Perasaan Cinta itu Karena Hormon


Sebuah hubungan pasti akan menemui titik jenuh. Bukan hanya karena faktor kebosanan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu sudah habis. Peneliti menemukan jika sudah lewat 4 tahun yang tersisa hanya menjaga komitmen dan dorongan seks. Bukan cinta yang murni lagi. Karena sebuah hubungan melewati masa 4 tahun sangat rentan dengan perpisahan jika tidak memiliki komitmen yang kuat.

Hal itu diungkapkan oleh peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico. Menurut peneliti disana, rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun.

"Tidak ada cinta yang benar-benar murni setelah 4 tahun," ujar seorang peneliti seperti dikutip dari Geniusbeauty, Rabu (9/12/2009).

Rasa tergila-gila yang muncul pada awal-awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri.

Hormon-hormon itu sangat baik untuk tubuh dan mempengaruhi kesehatan seseorang karena bisa membuat aliran darah lebih lancar, denyut jantung lebih stabil, rileks dan perasaan lebih bergairah dan bersemangat. Namun masalahnya efek hormon-hormon itu tidak akan abadi dan akan berkurang seiring berjalannya waktu.

"Bahkan cinta yang sangat dalam sekalipun akan kehabisan efek itu ketika sudah berjalan lebih dari 4 tahun. Hal itu dikarenakan tubuh sudah kebal terhadap semua efek hormon tersebut. Jika sudah begitu, rasa cinta akan cenderung berubah menjadi ketergantungan emosi dan seksual," jelas peneliti dari Meksiko.

Peneliti telah melakukan survei skala besar terhadap orang-orang yang jatuh cinta dan menemukan fakta bahwa cinta adalah obsesi. Ketika terobsesi pada seseorang, apapun caranya akan diperjuangkan, bahkan rela tidak tidur dan tidak makan hanya gara-gara memikirkan orang yang dicintainya. Tapi setelah mendapatkannya, perlahan rasa itu akan hilang.

Untuk itu, bersiap-siaplah terhadap segala kemungkinan terburuk dari sebuah hubungan setelah melewati masa 4 tahun. Hindari rutinitas yang membosankan dan cari variasi dalam setiap kegiatan bersama agar tidak dilanda stres. Coba ingat-ingat lagi, apa yang membuat Anda jatuh cinta padanya dulu, lalu hayati lagi perasaan itu.

Sekali lagi jaga komitmen. Ingat, seks hanya untuk pasangan suami istri. Belum menikah no sex. DOSA.

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD


EmoticonEmoticon