Senin, 06 April 2015

Faktor Penyebab Perceraian



Siapa yang ingin bercerai. Apa faktor penyebab perceraian. Setiap pasangan yang hendak menikah pasti tidak memiliki rencana untuk bercerai.  Artinya perceraian bukanlah sesuatu yang diinginkan setiap orang. Dahulu, cerai adalah peristiwa yang menguras air mata. Semua orang meratapinya. Karena pernikahan dibangun dengan nilai kesakralan yang melibatkan banyak orang dan institusi keagamaan. Agama Islam memandang perceraian sebagai sesuatu yang sangat dibenci. Ajaran Agama Katolik bahkan dengan tegas melarangnya.

Namun, akhir-akhir ini berita tentang perceraian tidak menjadi topik yang menyedihkan. Masyarakat menanggapinya biasa saja. Hanya sebagai berita hiburan. Berita kasus perceraian dalam rumah tangga sudah menjadi menu keseharian di media massa maupun elektronik. Khususnya berita perceraian yang terjadi pada para selebritis. Seolah bukan peristiwa sakral, infotainment membahasnya dalam kemasan entertainment. Misal publik dibuat penasaran apa penyebab perceraian marshanda dan infotainmen menayangkan berhari-hari. Atau rasa penasaran netizen yang googling dengan kata kunci faktor penyebab berceraian.



Cerai Sebagai Gaya Hidup

Perceraian sepertinya sudah menjadi gaya hidup. Padahal dalam setiap perceraian akan melululantakkan hubungan yang melibatkan banyak orang. Dan yang paling dikorbankan atas peritiwa ini adalah anak-anak. Mengutip data yang dilansir republika.co.id telah terjadi peningkatan angka perceraian yang signifikan dari tahun ke tahun.

Pada 2009 jumlah masyarakat yang menikah sebanyak 2.162.268. Angka perceraian sebanyak 216.286. Berarti ada sepuluh persen pernikahan gagal pada tahun yang sama. Pada tahun 2010, peristiwa pernikahan di Indonesia sebanyak 2.207.364. Adapun tingkat perceraian di tahun tersebut mencapai 285.184. Berarti ada peningkatan perceraiaan tiga persen dari tahun sebelumnya.

Pada 2011, data pernikahan sebanyak 2.319.821 sementara perceraian sebanyak 158.119 peristiwa. Berikutnya pada 2012, pernikahan sebanyak 2.291.265 peristiwa sementara yang bercerai berjumlah 372.577.  Pada 2013, jumlah peristiwa nikah menurun yakni sebanyak 2.218.130. Namun ironisnya tingkat perceraiannya meningkat menjadi 14,6 persen atau sebanyak 324.527 peristiwa.

Dari data perceraian di Indonesia tersebut bisa tergambarkan bahwa perceraian dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Ada peningkatan sampai 70 persen.  Hal ini bukanlah hal yang menggembirakan. Karena tingkat ketahanan terhadap badai yang menerpa rumah tangga semakin lama semakin rapuh. Data yang lain menyebutkan bahwa sebagian besar yang mengajukan gugatan cerai adalah istri.

Perlu ada kajian soal fenomena perceraian ini. Banyaknya wanita yang mandiri berbanding terbalik dengan tingkat perceraian yang melibatkan inisiatif istri. Hal ini sungguh disayangkan karena peran wanita yang semakin besar di masyarakat ternyata menciptakan kesenjangan dengan suami. Butuh kerendahan hati bagi istri jika ingin berjalan seiring selaras. Sebagai wanita karir yang sukses dan juga istri yang sukses.

Faktor Penyebab Perceraian

Berikut ini yang menjadi faktor penyebab perceraian sesuai dengan data yang dilansir Departeman Agama RI tahun 2014.

1. Tidak Harmonis

Sebanyak 39% menggunakan alasan ketidak harmonisan sebagai penyebab terjadinya perceraian. Termasuk didalamnya yang digunakan sebagai alasan cerai adalah alasan ketidak cocokan, sudah tidak cinta, tidak ada kepuasan seks, tidak perhatian, selingkuh dll.

Jika kita meneladani orang-orang tua kita dulu, perceraian adalah kejadian langkah. Faktor-faktor yang sifatnya subyektif dapat dikesampingkan demi keutuhan rumah tangga. Padahal orang-orang jaman dulu proses pernikahannya tidak melalui proses perkenalan yang lama sebagaimana anak jaman sekarang. Bahkan mereka melalui proses perjodohan antar orang tua mereka. Mereka baru mengenal pasangannya saat pernikahan. Dan pernikahan mereka langgeng sampai tua. Tidak ada percekcokan apalagi perceraian. Lalu, apa yang salah anak jaman sekarang?

Menurut Mario Teguh, kegagalan pernikahan seringkali dimulai saat memilih kekasih. Ketika ketertarikan tidak didasarkan pada hal-hal yang subtansif.  Namun hanya berdasarkan alasan fisik. Misal karena cantik. Atau alasan cinta. Padahal cinta juga punya alasan untuk hadir. Karena kecantikan itu juga. Mario Teguh menyatakan memilih kekasih seharusnya sudah diniatkan untuk memilih pasangan pernikahan. Dibutuhkan kearifan bahwa pernikahan tidak hanya mendapatkan cintanya tapi harus mendapatkan pengertiannya. Karena ia partner seumur hidup.

2. Tidak Ada Tanggung Jawab

Sebanyak 33% berpisah karena tidak tahan dengan suami yang tidak bertanggung jawab. Dalam perjanjian pernikahan hal ini tercantum jelas. Biasanya setelah akad nikah penghulu meminta suami membacakan didepan istri dan keluarganya. Agar semua pihak mengerti tanggung jawab suami seperti apa.

Gugatan wanita minta cerai dengan alasan ini lebih mudah diloloskan oleh pengadilan agama saat ada gugatan cerai. Karena terkait dengan sifat dan karakter seseorang. Suami yang tidak ada tanggung jawab adalah mereka yang tidak peduli dengan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Ia hanya peduli dengan dirinya sendiri.

Sementara suami yang memiliki kepedulian terhadap rumah tangganya namun tidak mampu mencukupinya tidak termasuk dalam kategori tersebut.

3. Masalah Ekonomi

Sebanyak 28% istri mengajukan gugat cerai karena alasan ekonomi. Ketidak mampuan suami menyediakan kehidupan yang layak bagi keluarga dipandang oleh sebagian istri sebagai alasan wanita minta cerai. Alasan ini bisa diterima. Namun masalah ekonomi adalah relatif.  Penerimaan satu orang dengan yang lain bisa berbeda.

Kerendahan hati seorang istri diperlukan untuk menerima fakta bahwa suaminya tidak mampu menyediakan kebutuhan sehari-hari. Dibutuhkan dukungan istri agar kebutuhan tercukupi. Selain kemampuan mengelola keuangan yang terbatas, istri juga bisa mencari kerja. Atau bikin usaha di rumah. Kiat lain yang baik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga adalah bikin usaha bareng surami. Misal, istri bikin kue, suami yang menjualnya. Masalah perceraian bisa dihindari.

Tips Menghindari Gugatan Perceraian


Jika ditarik pada satu alasan semuanya adalah faktor kegagalan dalam membangun komunikasi. Rumah tangga harus memiliki pondasi komunikasi yang baik. Membiasakan membahas persoalan yang mereka hadapi sehari-hari adalah pondasi pertama yang harus dibangun. Berikut tips dalam membangun komunikasi agar tercipta rumah tangga yang harmonis.
  • Pasangan harus saling menghormati. Harus disadari bahwa masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Saling menghormati berarti tidak merendakan pasangan. Dari mana asalnya, latar belakangnya kayak apa dsb. Semua sudah lebur saat mengikat janji suci saat pernikahan.

  • Saling jujur antar keduanya. Permasalahan dalam pernikahan harus dibicarakan berdua. Termasuk problem ketidakmampuan suami mencukupi kebutuhan rumah tangga. Pembicaraan yang intens dan intim akan mampu menggali empati dari isteri untuk memahami situasi dan turut membantu suami mencukupi kebutuhannya. Maka tidak ada lagi terbesit isteri ingin cerai karena kamunikasi sudah berjalan baik.

  • Hubungan seks yang saling memuaskan. Momen bercinta adalah komunikasi paling intim. Karena ia melibatkan emosi, fisik dan hati. Hubungan seks yang harmonis disebut-sebut menjadi jembatan komunikasi yang paling efektif. Kehidupan rumah tangga yang berantakan dimulai dari kehidupan seksual yang gagal. Waallahul A’alam Bis Shawab. Tips Hubungan seks yang saling memuaskan, silakan buka : www.abeharmoni.com

  • Tidak sungkan memuji pasangan. Ritual semacam ini seringkali terabaikan. Meski sepele hal yang demikian bisa merekatkan hubungan suami istri. Segala persoalan miss comication akan luruh dengan romantisme. Istri melupakan kesalahan suami. Suamipun demikian.
Itulah tips agar terhindar dari bencara percerian. So, please Jangan Bercerai !

Salam harmonis. Semoga bermanfaat. (*)

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD

2 komentar


EmoticonEmoticon