Rabu, 26 Agustus 2015

Mendidik Anak Manja

Hadirnya anak dalam kelurga menjadi aura tersendiri rumah tangga. Rumah menjadi lebih hidup. Celoteh anak serta kenakalan menjadi pemandangan menyenangkan saat anak pada masa tumbuh kembang. Tugas orang tua adalah mengarahkan menjadi anak yang baik. Karena anak secara prinsip adalah titipan tuhan untuk diwarnai. Tergantung orang tua memberi warna dengan corak dan motif apa.




Namun, yang harus dipahami orang tua adalah cara mendidik akan berpengaruh terhadap mental anak saat usia dewasa. Sebagaimana artikel sebelumnya yang berjudul Ingin anak hebat, jangan bentak anak mengulas bagaimana orang tua tidak diperkenankan mendidik dengan cara keras saat anak usia dini. Apakah berarti boleh dimanjakan? Apa pengertian anak manja?

Pengertian Anak Manja


Menurut Seto Mulyadi (1997) menyatakan "Anak manja adalah anak yang selalu mengharapkan perhatian berlebihan dari lingkungan sekelilingnya, juga diikuti dengan keinginan untuk serta dituruti segala kemauannya”.

Kata kuncinya adalah “dituruti segala kemaunnya”. Artinya adalah baik mengabulkan sebagian permintaan dengan pertimbangan manfaat buat anak.  Tentu juga menyesuaikan dengan keuangan yang ada. Yang tidak bermanfaat bisa dijelaskan dengan bahasa anak. Atau alihkan dengan hal-hal lain yang lebih menarik. Ajaklah bermain ala anak. Hal ini akan lebih berarti bagi anak daripada menuruti segala keinginannya.

Memanjakan Anak Lebih Mudah Dilakukan


Bagi orang tua yang berduwit bahkan yang tidak berduwit sekalipun, menuruti kehendak anak lebih mudah dilakukan daripada memberi pengertian. Apalagi bagi orang tua yang sibuk bekerja, ada perasaan bersalah jika tidak menyenangkah hati anak dengan mengabulkan segala permintaannya. Akhirnya sikap anak menjadi manja. Dengan senjata tangisan segala keinginannya pasti dikabulkan. Dampaknya adalah anak memiliki kepribadian untuk lebih mudah menerima daripada memberi.

Sekolah menyadari problem psikologis anak tersebut. Karena itu diawal pra sekolah atau Taman Kanak-Kanak, orang tua tidak diperkenankan untuk menunggui atau menemani saat di kelas. Hal ini dilakukan agar anak tidak manja. Selanjutnya guru akan mengajari untuk mandiri dalam mengikuti pembelajaran tanpa dibantu guru. Hal ini mengurangi ketergantungan anak pada guru. Orang tua harus sinergi dengan pola mendidik anak yang dilakukan oleh gurunya. Di rumah si anak diingatkan untuk mandiri. Misal untuk hal-hal kecil, saat pulang sekolah diminta  lepas sepatu sendiri dan meletakkannya di rak sepatu. Namun demikian, kemandirian anak harus proposional sesuai umur. Tentu tidak diperkenankan menyuruh anak untuk cuci pakain sendiri, misalnya.

Berikan Apresiasi


Selanjutnya anak tumbuh dan berkembang dengan membangun kreatifiatas. Dimana menanmkan pada diri anak untuk berkarya. Jika kreatifitas anak terasah anak akan siap dengan dengan tantangan jaman. Menggali kreatifitas dengan menyediakan media kreatif. Misal, menyediakan media gambar yang untuk diwarnai. Atau memilihkan mainan yang menantang kreatifitas. Yang paling penting adalah orang tua terlibat dalam permainan anak. Orang tua yang super sibuk, harus menyisihkan waktu untuk bermain dengan anak. Dan jangan lupa berikan apresiasi atas apapun yang dikerjakan anak.

Dimanja Lingkungan


Lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental anak. Tidak sedikit anak justru dimanja oleh lingkungan kita. Pasangan yang tidak memiliki anak atau memiliki anak yang sudah dewasa kerap menjadikan anak kita sebagai pelampiasan untuk melepaskan kerinduan terhadap anak-anak kecil. Yang justru seringkali didukung orang tua karena “terbebas” dari penatnya mengasuh anak.

Peran keluarga merupakan peran utama yang sangat penting supaya anak tidak bersikap manja pada lingkungan masyarakat. Diperkuat dengan adanya peran guru di sekolah untuk mengantisipasi timbulnya kemanjaan anak.

Semoga artikel mendidik anak manja ini bermanfaat.

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD

1 komentar so far


EmoticonEmoticon