Rabu, 02 September 2015

Membina Keluarga Bahagia Kristen

Menikah sudah menjadi fitrah manusia sejak lahir, sehingga tidak heran seindiviual apapun seseorang, menikah tetap menjadi keinginan mereka.

Namun,menikah bukanlah hal yang mudah, karena setelah menikah, perlu membina keluarga kita agar mencapai kebahagiaan. Membina keluarga bahagia kristen yang sesuai dengan alkitab tentunya menjadi impian bagi pasangan keluarga kristen manapun.



Pengetahuan tentang hal ini menjadi penting melihat banyaknya fenomena kegagalan atau kehancuran rumah tangga. Biasanya, hal ini terjadi karena keegoisan masing-masing individu dalam pasangan atau keluarga itu dan juga karena tidak adanya rasa tanggung jawab diantara mereka.

Kasih sayang diantara mereka juga tidak terbentuk menyebabkan keluarga mereka berada diambang kehancuran jika tidak cepat-cepat diperbaiki.

Pengertian Keluarga

Sebelum mempelajari bagaimana cara membina keluarga bahagia yang benar, kita harus mengetahui pengertian keluarga terlebih dahulu. Keluarga sendiri memiliki pengertian keluarga terkecil dalam masyarakat  dimana didalamnya terdapat pemeliharaan anak dan juga kebutuhan manusiawi lainnya.

Keluarga dalam arti inti terdiri atas ayah, ibu dan juga anak, baik anak kandung maupun anak adopsi. Keluarga juga dituntun oleh aturan sosial yang didalamnya berhubungan dengan faktor biologis dan juga pembiakan.

Tips Meraih Keluarga Bahagia Kristen

Agar bisa meraih keluarga bahagia secara kristiani, ada beberapa tips yang bisa diikuti.

Pertama adalah dengan mengikuti apa yang diperintahkan Allah dalam alkitab. Biasanya keluarga yang gagal meraih kebahagian dikarenakan menggunakan aturan sendiri, bukan aturan Allah.

Kedua adalah dengan meneguhkan kembali dalam diri, bahwa pernikahan adalah sebuah komitmen yang pemanen dan juga merupakan penyatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ingat sumpah dalam pernikahan bahwa ‘Dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita akan selalu bersama-sama’.

Ketiga adalah ingat bahwa pernikahan bukanlah sebuah pembagian 50/50 atau dalam artian akan melakukan bagian jika pasangan melakukan bagian. Tapi ingatlah bahwa setiap pasangan harus melakukan tanggung jawab masing-masing 100% kepada pasangannya.

Untuk suami misalnya, dia menjadi kepala keluarga dalam hal otoritas dan tanggung jawab, bukan dalam hal superior-inferior. Bukan hanya itu, suami harus mengasihi istri hingga mengorbankan nyawa sekalipun. Sedangkan untuk istri, harus tunduk pada suami sebagaimana dia tundukpada Tuhan. Istri juga tidak seharusnya menggurui suami dan menenangkan semua perilaku suami.

Keempat adalah mengenali bahwa setiap pribadi memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Istri misalnya, dia membutuhkan kasih sayang suami dan juga mendapatkan perlindungan dan rasa aman dari suami.

Sedangkan suami membutuhkan rasa hormat dan juga dihargai oleh istri dan juga mengetahui bahwa sang istri bergantung kepada suaminya. Kelima adalah dengan memenuhi kebutuhan pasangan entah itu kebutuhan lahir maupun batin.

Terakhir adalah dengan melandaskan pernikahan itu pada agama yang kuat sehingga bisa mendapatkan kebahagiaan dalam berkeluarga.

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD


EmoticonEmoticon