Minggu, 27 November 2016

Menikah Karena Cinta Tidak Menjamin Rumah Tangga Bahagia

Menikahlah Demi Kehidupan Yang Lebih Berkualitas


Cinta sering dianggap segalanya dalam membangun relasi antara suami istri. Sehingga jika menikah tanpa cinta dianggap menikah karena motif. Tidak memiliki kesakralan. Karena itu banyak orang mengidamkan menikah dengan orang yang dicintainya. Bahkan sebagian masyarakat masyarakat turut menyemangati jika ketemu pasangan yang saling cinta untuk segera menikah. Bagi sebagian orang itu adalah peristiwa yang sangat indah. Mungkin juga terpengaruh oleh tontonan mereka. Telenovela.

Sehingga jika ada pasangan yang menikah karena alasan lain selain cinta dianggap tidak memiliki kepekaan rasa.



Perempuan yang menikah dengan pasangannya tanpa landasan cinta yang kuat dianggap manipulatif, oportunistis, dipandang rendah, dan dicap sebagai pengeruk harta. Tetapi, tidak selamanya ini benar!

Memang benar bahwa cinta tidak pernah salah, kekuatan cinta mengalahkan segalanya, dan cinta merupakan simbol kebahagiaan. Namun, dunia tidak berjalan dengan prinsip yang sama. Singkatnya, tidak ada makan siang yang gratis.

Jaman dulu, pernikahan karena politik atau karena bisnis sering terjadi. Hal ini cenderung menjadi kewajiban. Khususnya yang lahir dari keluarga bangsawan dan terpandang.

Menurut para pakar pernikahan, seperti Andrew Cherlin, penulis buku Marriage-Go-Round; dan Stephanie Coontz, penulis buku Marriage, A History, ketika seseorang mengupayakan cinta sebagai kekuatan paling tinggi dari pernikahan, justru dia sedang melemahkan dirinya sendiri.

Memutuskan menikah dengan seseorang yang Anda percaya dapat mengubah hidup jadi lebih baik, bukan sesuatu yang salah, selama tidak merugikan orang lain. Menikahlah demi kehidupan yang lebih berkualitas untuk anak supaya mereka memperoleh pendidikan yang layak, kamar yang nyaman untuk belajar, dan memori masa kecil yang berkesan. Ini bukan perilaku materialistis, tetapi realistis!

Berikut tiga alasan mengapa menikah karena cinta bukan pilihan yang bijak dan rentan berakhir dengan perceraian. Yuk, disimak.

Cinta itu Pengaruh Hormon


Anda bertemu dirinya, tertarik dan  jatuh cinta! Anda pikir ini sudah suratan, akhir bahagia yang telah lama dinantikan. Namun ingat, menikah adalah komitmen seumur hidup, yang dibutuhkan sudah pasti lebih dari sekadar cinta, tetapi juga pemikiran yang jauh ke depan.

Tahukah bahwa dalam tubuh ada hormon cinta. Hormon yang menumbuhkan perasaan senang dan bahagia. Yang kebetulan saat hormon muncul itu sedang bertemu dengan si doi.

Hormon cinta ini berusia 4 tahun. Selebihnya adalah komitmen dan seks bagi yang sudah menikah. Cinta bukanlah sesuci yang dipandang orang selama ini. Buktinya perselingkuhan banyak terjadi bukan karena rasa cinta tapi alasan yang bersifat nampak. Karena cantik atau kaya atau karena kebaikan sikapnya.

Cinta Membuat anda mudah membencinya


Ya, cinta memang kuat, tetapi semakin besar cinta Anda, semakin besar juga potensinya untuk menguap dan hilang. Cinta memiliki kekuatan untuk melakukan apapun buat pasangannya. Tentu dengan harapan mendapat perlakuan yang sama dari pasanannya. Itu berarti anda meletakkan harapan yang sangat besar pada pasangan. Saat harapan ini tidak terpenuhi, rasa kecewa yang Anda rasakan akan lebih menyakitkan. Dan, saat ini semua terjadi, penyesalannya lebih dalam dari cinta itu sendiri. Dan kebencian yang tumbuh sangat susah untuk disembuhkan.

Cinta melemahkan bargaining position dengan pasangan


Ketika Anda mencintai seseorang, keinginan membahagiakan dirinya adalah efek domino yang berbahaya. Ya, dengan begitu, Anda akan melupakan diri sendiri karena hidup Anda hanya berpusat pada pasangan. Padahal, pernikahan yang sebenarnya memerlukan upaya dan kerja keras yang sepadan dari suami dan istri, kerja sama yang mustahil dilakukan apabila cinta memberatkan salah satu pihak.

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD


EmoticonEmoticon