Rabu, 30 November 2016

Suka Gratisan Jangan Berharap Menjadi Kaya

Gratisan.  Ya, siapa yang tidak suka. Kebanyakan orang menyukainya. Terkadang bukan alasan nilai ekonomisnya. Mengejar gratisan itu lebih tepat sebagai karakter dan kepribadian. Mengejarnya seperti berpacu dengan andrenalin. Mirip hobby. Bahkan ketika memiliki uangpun masih mengejarnya. Ada kepuasan tersendiri.

Dalam pergaulan, masuk dalam kategori ini adalah orang suka ditraktir. Pasti dilingkungan kita akan sering menyaksikan orang dengan model yang kayak gini. Saat makan bareng, pura-pura sibuk dengan hp-nya, dompetnya yang tertinggal atau menanyakan fasilitas “alat gesek” karena tidak memiliki uang cash. Atau dengan alasan-alasan yang lain.



Ingat, saat program konversi minyak tanah ke elpiji?

Saat itu, pemerintah memiliki program untuk masyarakat miskin. Masyarakat  yang merasa miskin mendapat jatah satu kompor gas dan elpiji 3 kg. Gratis. Yang terjadi, banyak orang kaya yang ikutan mengambil jatah. Bahkan mendaftarkan sanak saudaranya yang tidak berada ditempat.

Sejatinya harapan yang terlintas di fikiran adalah doa. Dan dikabulkan oleh yang Maha OK. Yakni Allah SWT. Saat kita memiliki pengharapan terhadap orang lain, alam bawah sadar akan berproses untuh menjauhkan diri kita dari jalan rejeki yang diberikan Allah SWT dan mendekat kepada para dermawan untuk berharap belas kasian.

Maka jauhilah mental gratisan jika tidak ingin menjadi miskin. Baik miskin hati maupun harta.

Mengapa tidak boleh gratisan ?


  • Gratisan itu mental orang miskin. Begitu kita mengharap gratisan, alam bawah sadar kita merekam. “Saya tidak punya uang.  Pantas dapat gratisan. Saya tidak layak kaya”. Alam bawah sadar kita akan menuntun menjauhi rejeki dan menggerakkan tubuh untuk mendekati orang yang bisa memberi kita gratisan.
  • Allah menuruti prasangka hambanya. Yang bermental gratisan adalah orang yang merasa bahwa dirinya tidak memiki kecukupan materi untuk berbagi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Sikap semacam itu adalah bentuk prasangka bahwa yang maha membagi rejeki akan memberinya rejeki yang sedikit. Maka Allah akan menuruti prasangka hambanya.
  • Jangan berharap pada manusia. Pasti akan kecewa. Sedekat-dekatnya hubungan antar manusia pasti akan rusak jika salah satunya selalu berharap pemberian dari yang lain. Maka bermohonlah pada Allah SWT.
  • Tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah. Yang memberi jelas lebih mulia. Dan yang selalu berharap menerima adalah yang hina. Maka jika anda sudah dihinakan manusia yang lain apalagi yang kita harapkan didunia ini. Maka hifup mulia adalah pilihan utama. Sebagaimana ajaran agama yang memiliki jargon “hidup mulia atau mati syahid”.

Semoga kita tidak termasuk makhuk gratisan. Namun jika termasuk bermental gratisan marilah kita melakukan instropeksi dan merubah mindset kita menjadi hamba pemberi. Hamba yang merasa kaya. Hamba yang bermental kaya.

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD


EmoticonEmoticon